Teori Kinerja Organisasi

By | November 20, 2017

Teori Kinerja Organisasi

Kinerja adalah suatu fungsi dari motivasi dan kemampuan. Untuk menyelesaikan tugas atau pekerjaan seseorang sebaiknya memiliki derajat kesediaan dan tingkat kemampuan tertentu. Kesediaan dan keterampilan seseorang tidak cukup efektif untuk mengerjakan suatu tanpa pemahaman yang jelas tentang apa yang dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya. Kinerja juga dapat dikatakan sebagai perilaku nyata yang ditampilkan setiap orang sebagai prestasi kerja yang dihasilkan oleh karyawan sesuai dengan perannya dalam perusahaan (Rivai dan Sagala, 2009:549).

Organisasi yang berhasil dan efektif merupakan organisasi dengan individu yang didalamnya memiliki kinerja yang baik. Rivai dan Sagala mengatakan bahwa salah satu cara yang dapat digunakan untuk melihat perkembangan organisasi yakni dengan cara melihat hasil penilaian kinerja. Adapaun hasil penilaian dapat dilihat kinerja organisasi yang dicerminkan melalui kinerja karyawan.

Tujuan diadakan penilaian kinerja adalah untuk 1. evaluasi yang obyektif terhadap prestasi kerja karyawan pada masa lalu yang digunakan untuk membuat keputusan di bidang SDM di masa yang akan datang, dan 2. sebagai sarana yang memungkinkan untuk membantu karyawannya memperbaiki prestasi kerja, merencanakan pekerjaan, mengembangkan kemampuandan keterampilan untuk perkembangan karier dan memperkuat kualitas hubungan antar manajer yang bersangkutan dengan karyawannya (Rivai dan Sagala, 2009:551).

Untuk menilai kinerja organisasi tentu saja diperlukan indikator-indikator untu mengukur secara jelas. Adapun salah satu aspek pentingnya alat ukur kinerja organisasi adalah bahwa alat ukur kinerja organisasi dapat digunakan oleh pihak manajemen sebagai dasar untuk melakukan pengambilan keputusan dan mengevaluasi kinerja manajemen serta unit-unit terkait di lingkungan organisasi organisasi.

Dan sebaliknya bagi organisasi, alat ukur ini dipakai oleh organisasi untuk melakukan koordinasi antara para manajer dengan tujuan dari masing-masing bagian yang nantinya akan memberikan kontribusi terhadap kemajuan dan keberhasilan organisasi dalam mencapai sasarannya.

Menurut Bernadin (dalam Sudarmanto, 2009:12) menyampaikan bahwa terdapat enam indikator kinerja. Keenam indikator tersebut dapat digunakan untuk mengukur kinerja, yakni:

  • Quality. Indikator kualitas terkait dengan proses atau hasil mendekati sempurna dalam memenuhi tujuan.
  • Quantity. Indikator kuantitas ini terkait degnan satuan jumlah yang dihasilkan.
    Timeliness. Indikator ketepatwaktuan ini terkait dengan waktu yang diperlukan dalam menyelesaikan pekerjaan atau dalam menghasilkan produk.
  • Cost-effectiveness. Indikator keefektivan ini terkait dengan tingkat penggunaan sumber-sumber organisasi seperti orang, uang, material, teknologi, dan sebagainya dalam memperoleh hasil.
  • Need for supervision. Indikator perlunya pengawasan ini terkait dengan kemampuan karyawan dalam menyelesaikan pekerjaan tanpa asistensi pimpinan.
    Interpersonal impact. Indikator dampaknya ini terkait dengan kemampuan karyawan dalam meningkatkan perasaan harga diri, keinginan baik, dan kerja sama di antara sesama karyawan.

Kemudian Dwiyanto (dalam Sudarmanto, 2015:16) menjelaskan bahwa terdapat lima indikator untuk mengukur kinerja organisasi, yaitu:

  • Produktivitas, dengan mengukur tingkat efisiensi, efektivitas pelayanan dan tingkat
  • pelayanan publik dalam rangka mencapai hasil yang diharapkan
    Kualitas layanan, dengan mengukur kepuasan masyrakat terhadap layanan yang diberikan
  • Responsitas, dengan mengukur kemampuan organisasi untuk mengenaliu kebutuhan masyarakat, mengusun agenda dan prioritas pelayanan dan mengembangkan program-program pelayanan publik sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat
  • Responsibilitas, mengukur kesesuaian pelaksanaan kegiatan organisasi publik yang dilakukan dengan prinsip-prinsip administrasi yang benar/ sesuai dengan kebijakan organisasi
  • Akuntabilitas; seberapa besar kebijakan dan kegiatan organisasi publik tunduk pada para pejabat politik yang dipilih oleh rakyat atau ukuran yang menunjukkan tingkat kesesuaian penyelenggaraan pelayanan dengan ukuran nilai-nilai atau norma eksternal yang ada di masyarakat atau yang dimili ki para stakeholders.
Bagikan kepada teman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *